Selamat Hari Kartini Perempuan – Perempuan Indonesia!

Selamat Hari Kartini Perempuan2 Indonesia! Selamat menikmati kebebasan beremansipasi. Selamat berkarya dan maju terus. Saya bangga menjadi perempuan Indonesia, perempuan yg dilahirkan di negeri yang indah dengan beragam suku dan budaya yang maha kaya. Inilah yang juga harus kita sadari, bahwa kita sbg perempuan harus bisa menjaga dan melestarikan apa yg negeri ini miliki. Sebagai perempuan yang terus berkembang dengan ide dan kreatifitas masa kini tanpa menyampingkan kodrat sebagai seorang perempuan yang juga bertanggungjawab pada suami ataupun keluarga. Emansipasi masa kini benar – benar terlihat jelas. Banyak perempuan hebat yang melakukan kegiatan ataupun menghandle pekerjaan yang biasa dilakukan oleh kaum pria. Hal ini membuktikan bahwa kita memang layak dengan persamaan gender, tidak mengklasifikasikan gender, apalagi dalam berkarya.

Terimakasih Ibu Kartini yang sudah membebaskan belenggu dimasa lalu bahwa wanita tidaklah perlu berperan dalam segala hal. Karena perjuanganmu kami kini bisa melakukan dan menjalani pekerjaan apapun dan di manapun.

Mari Kartini – Kartini modern teruslah berkarya dan beremansipasi yang tidak kebablasan serta tetap sadar diri akan peran dan tanggungjawab sebagai wanita. Maju terus perempuan Indonesia dengan segala hasrat, kreatifitas dan impiannya! Selamat Hari Kartini!

-ndie
@indietriana

Advertisements

Kami sekeluarga berduka..

“God works in mysterious ways…” Saya dan keluarga sedang berduka. Rabu kemarin kami baru saja kehilangan laki – laki yg biasa kami panggil Bapak. Akhirnya Yang Kuasa memanggil Ayah saya kembali setelah beliau sakit setahun lebih. Rejeki, jodoh dan usia… Tidak pernah ada yg tau.. Hanya DIA yang tau.. Karena DIA lah yang menuliskan semuanya.

Ya Allah, kuatkan kami sekeluarga.. Aku yakin ini adalah yang paling baik dari Mu untuk keluarga kami dan juga untuk alm Bapak. Semoga Kau terima beliau di sisi Mu. Kau ampuni dosa2nya dan Kau terima amal ibadahnya. Amiin..

-ndie
@indietriana

Ini Masih Tentang Mimpi Dan Angan..

“Gw pengen punya brand… Entah apa itu nanti realisasinya..” Masih terus ada di pikiran. Menggantung. Saya yakin ini sign. Saya percaya bisa terealisasi. Sempat punya brand iseng-isengan clothing di tahun 2005-an dengan nama “dee8 clothing”. Setelah itu sempat ada keinginan membuat “The House Of Can-Cut”. Apakah itu?? Saya ingin membuat pakaian dalam perempuan. Coba cermati 2 kata terakhir brand yg sempat saya pikirkan sekitar tahun 2008-an itu. Nah, maksutnya bikin itu.. *udah tau kan bacanya.. udah lah ya.. ;p

Selanjutnya mengerucut lagi dengan akan menembak market Kids. Jadi can-cut nya bisa saya kasih design ‘Monday – Sunday’ dng design unyu2 😀
Udah cek supplier, distributor dan market beserta bisnis plan kecil-kecilan *gini-gini gw sekolah ekonomi loh.. Jurusan akuntansi pulak. Hahaha.. Ga pantes ya kalo yang udah kenal cukup deket ama gw pasti tau lah ya.. Kacau pasti kalo gw jadi akunting. Haha.. Tapiii.. Ngomong-ngomong kuliah jurusan akuntansi, dulu mata kuliah yg paling gw suka ya Pengantar Bisnis dan Studi Kelayakan Bisnis. Oia satu lagi, Perpajakan 😀 Nampak ga banget ya sama gw. Tapi di mata kuliah itulah gw ngerasa paling berhasil. Bahkan dari pada mata kuliah Agama ataupun Pancasila. Parah! Gw ngulang bok di dua mata kuliah itu! Hahaha.. Malah jadi cerita kuliah.. Maksud saya bukan itu. Hehe..
Lanjut, tentang brand sendiri.. ‘The House Of Can-Cut’ terhenti akibat saya masih meragu berbisnis sendirian dengan aktivitas pekerjaan yg cukup tinggi load nya waktu itu. Sampai di 2012 saya kembali ingin memproduksi sesuatu yaitu sepatu foldies. Kegemaran saya mengenakan flat shoes dan sudah beberapa kali memiliki foldies shoes, akhirnya saya mulai bertanya tentang produksi sepatu flat yang bias dilipat ini. Kenapa foldies shoes? Karena saya rasa semua wanita bias membutuhkan dan memakai sepatu ini. Dari mulai muda sampai tua. Simpel karena bias dilipat, membuat saya terpikirkan, jika ini sukses merebut hati para wanita, minimal di Jakarta, betapa senangnya saya jika si foldies bisa ada di salah satu jejeran sepatu di kolong meja kerja para perempuan, atau di dalam mobil, bahkan dibawa dalam tas kemana-kemana untuk jaga-jaga atau sebagai pengganti high heels.

Sampai saat ini semua mimpi itu masih menggantung di pikiran. Ketambahan belakangan ingin punya cemilan tradisional yang dipacking dengan menarik dan rasa yang boleh diadu dengan penjualan serta promosi yang dilakukan secara modern. Gak mudah pasti.. semua yang ingin saya produksi menjadi brand sendiri atau independen ini tentu lebih memerlukan ketekunan dalam mendirikan dan mengelolanya. Saat ini saja saya me-running coffee shop sambil kerja kantoran sudah membuat saya kadang agak sulit fokus. Beda loh ya… antara kesibukan atau banyak kerjaan di kantor dengan menjalani pekerjaan dan tanggung jawab di dua perusahaan atau lebih yang berbeda. Jelas segala sesuatunya belum tentu sama atau mirip.

Ini semua masih berkaitan dengan mimpi. Menurut saya inilah salah satu yang masih membuat saya merasakan warna – warni hidup dan merasa terus tertantang dengan adanya mimpi – mimpi. Mimpi yang akan menjadi sementara karena bisa dilihat di kenyataan. Jangan berhenti bermimpi untuk hidup yang terlalu sayang terlewati tanpa adanya angan dan mimpi.

-ndie 🙂

@indietriana

Commuterline.. Oh Commuterline.. :)

Holla..!! *elus2 dashboard blog* 😀 Menulis di kereta Commuterline adalah pertama kalinya bagi saya. Karena yang pasti diperlukan kemahiran untuk bisa ngeblog di rush hournya Commuterline ;p Oia, sedikit cerita.. Terserah mau tau apa enggak.. :)) Sekarang saya stay di kota belimbing a.k.a Depok.. *padahal sampe sekarang gw ga pernah liat kebonnya. Entah apa yg membuat walikota depok menjadikan depok sebagai kota belimbing..
Lanjut, pagi ini alhamdulillah dapet duduk pas di stasiun cawang. Lucky me! Jarang loh kalo naek dari Depok di jam kantor pagi – pagi, bakalan dapet duduk di commuterline. Banyak cerita lucu selama saya jadi pengguna kereta lagi sejak kerja di Cikini. Hanya sekitar 30menit perjalanan yg di tempuh dengan menggunakan kereta commuterline yang sekarang harga tiket dari depok 8ribu rupiah. Tentunya lebih efektif dibanding membawa kendaraan sendiri atau naik bus umum. Tapi penderitaan sebagai user commuterline yg tak jarang menggantungkan kenyamanan penumpang seperti para PHP kepada fansnya (baca: Pemberi Harapan Palsu, ini saya dengar kata-kata yang sedang cukup hits dikalangan anak muda jaman sekarang untuk laki-laki atau perempuan yang hobbynya tebar pesona. Kayaknya ‘tepe-tepe atau tebar pesona itu udah masuk kata-kata yang lawas deh. Supaya gak terlalu kentara umur gw, jadilah gw pake ntu PHP aja ya.. ;p )
Kadang mengesalkan namun membuat tersenyum sendiri melihat kelakuan para penumpang tetap di commuterline. Tak jarang saya hanya perlu menunggu dorongan dari belakang untuk masuk atau turun kereta. Saya yang biasa naik di gerbong perempuan, malah merasa bahwa penumpangnya lebih sangar dari laki-laki. Stasiun Tebet arah ke Bogor di jam pulang kantor. Para penumpang yg biasa naik commuterline sudah mengerti tipikal perempuan dari stasiun ini. Sangar. Hehe.. Mereka akan mendorong penumpang yg ada di dalam kereta agar bisa masuk sambil kadang ada yg ngoceh jika sulit masuk ke dalam kereta. Ada juga yang berkomplot membuat suatu gank dan heboh dengan obrolan dari mulai gosip artis, masakan, rumah tangga dan lainnya. Banyak penumpang reguler tsb yang membawa kursi lipat untuk duduk di kereta. Yang kadang sebenarnya cukup mengurangi space berdiri penumpang. Belum lagi jika schedule kereta tiba-tiba berantakan karena gangguan sinyal ataupun teknis yang lain. Kereta jadi molor jam kedatangannya, penumpang menumpuk dan tak jarang AC dalam kereta mati. Fiuuhh.. Kebayabang kan dengan pintu dan jendela tertutup tanpa AC. Sauna bok…

Ya.. Beginilah transportasi umum di kota ini. Gimana mau membuat masyarakat menggunakan transportasi umum jika fasilitas dan service aja masih minim dan belum stabil. Semoga bisa segera diperbaiki. Jakarta.. Oh Jakarta..

Ndie
@indietriana

Cerita Mimpi.. Awal Sebuah Nyata..

“Mimpi itu selalu menjadi sementara, tiap kali kita percaya itu akan menjadi nyata…”

Coffee Shop adalah salah satu impian saya disela – sela impian lain dalam hidup ini. Saya selalu percaya bahwa setiap mimpi saya akan menjadi nyata selama saya berpikir dan berusaha mencapainya dengan selipan doa. Tak jarang, mimpi tersebut menjadi nyata saat kita tak sadari apa yang telah kita lakukan. Seperti pada Legipait Coffee Shop. Nova, sahabat saya yang sudah membuat Legipait Malang selama setahun lebih, tiba – tiba disuatu senja pada pertemuan singkat kami setelah sekian lama tak bersua karena segala macam aktivitas masing – masing, Nova menawarkan saya bergabung untuk Legipait Jakata. Dulu saat Nova membuat Legipait Malang, saya belum berkata iya untuk bergabung. Beberapa masukan ataupun gagasan ide untuk Coffee Shop petama Nova di Malang, hanya itu yang dapat saya berikan. Namun malam itu, diakhir Februari.. di Bakoel Coffee Cikini saat Nova bercerita tentang Legipait Jakarta yang akan dibuat olehnya dengan seorang teman bernama Mbak Swanti. Sepulang menemui Nova, tawarannya bergabung di Legipait Jakarta terbawa terus dipikiran saya yang saat itu sedang menyiapkan usaha healthy juice bersama pasangan saya, Briem. Akhirnya saya bercerita pada Briem tentang ini dan dia mempersilahkan saya untuk menjalani Coffee Shop terlebih dulu, sepertinya dia tau ini adalah salah satu mimpi saya.

Dua hari kemudia saya melihat lokasi yang akan dijadikan tempat untuk Legipait Jakarta yaitu di Oet Galeri, Kemang Utara. Entah mengapa, saya mendapat chemistry sejak pertama menginjakkan  kaki di sana. Tanpa bla bla bla.. Saya dan Nova mulai menyiapkan yang dibutuhkan, karena esok harinya Nova akan pergi tur musiknya ke Hongkong dan Jepang selama sebulan lebih. Tanpa banyak komando, setelah saya menemui Mbak Swanti yang juga bergabung di Legipait ini, kami langsung menyiapkan segala sesuatu untuk opening Coffee Shop. Jika saya flash back, seperti cepat dan dinamis sekali waktu membawa saya dalam pembuatan Legipait ini. Mbak Swanti yang baru saya kenal dari Nova dan menjadi partner bisnis kami, Nova yang menitipkan ‘calon baby’ Legipait pada saya, semuanya seperti putaran waktu yang dipercepat. Hingga 16 Maret lalu, kami menerima tamu – tamu dengan kondisi Coffee Shop seadanya dikarenakan ada pameran foto di Galeri tersebut dan Mbak Swanti adalah salah seorang dibalik pameran tersebut. Dia mendirikan sekolah foto juga di Oet Galeri ini, namanya Panna Foto Institute. Sejak saat itulah, para teman ataupun tamu mulai bisa menikmati menu Legipait Jakarta. Kopi dari Malang yang khas, serta minuman racikan dengan signature “rempah – rempah” menjadi andalan dan perbedaan Legipait dengan tempat lain.

“God works in mysterious ways…”

Disaat tak terbayangkan, mimpi datang dan berkembang..

Terimakasih atas mimpi sementara itu Tuhan.. yang kini mulai bergerak menjadi sebuah kenyataan..

Pelan namun pasti, Legipait telah hadir di Kemang Utara 42. Hommy… dengan 3 perempuan di lini depan yang berasal dan mencinta sebuh kota di Timur Pulau Jawa. Yak, kami bertiga.. “Malang Community”, sebutan beberapa teman untuk kami. Nova dan Mbak Swanti memang Arema, saya hanya pernah mengenyam sekolah tinggi selama 4 tahun di kota yang pernah memberi banyak pelajaran hidup bagi saya, yang membuat saya jatuh cinta dan selalu ingin kembali dan menganggapnya sebagai “rumah”. Menjadikan Legipait semakin hangat dengan bahasa jowoan dalam obrolan – obrolan kami bertiga. Semoga apa yang sedang kami rintis ini akan menjadi sesuatu.

Tiba – tiba kembali timbul mimpi dipikiran ini… Legipait Depok, kota yang juga saya cinta selain Malang.. Legipait Jogja, Labuan Bajo, atau juga Karimunjawa. Banyak mimpinya.. namun saya tau, Tuhan tak pernah berhitung tentang mimpi saya ataupun kamu.. DIA mendengar dan mewujudkannya satu persatu.

Minggu, 14 April akan menjadi Grand Opening Legipait Jakarta. Ada acara musik dan pameran foto. Rasanya bagaikan akan melahirkan baby baru.. Deg-degan dan gembira. Saya yakin ini akan menjadi sesuatu yang membuat hidup saya lebih berarti dan berwarna lagi. Bismillahirrahmanirrahim.. Paringi lancar Ya Gusti Allah.. 🙂

-ndie 🙂

@indietriana