Ini Masih Tentang Mimpi Dan Angan..

“Gw pengen punya brand… Entah apa itu nanti realisasinya..” Masih terus ada di pikiran. Menggantung. Saya yakin ini sign. Saya percaya bisa terealisasi. Sempat punya brand iseng-isengan clothing di tahun 2005-an dengan nama “dee8 clothing”. Setelah itu sempat ada keinginan membuat “The House Of Can-Cut”. Apakah itu?? Saya ingin membuat pakaian dalam perempuan. Coba cermati 2 kata terakhir brand yg sempat saya pikirkan sekitar tahun 2008-an itu. Nah, maksutnya bikin itu.. *udah tau kan bacanya.. udah lah ya.. ;p

Selanjutnya mengerucut lagi dengan akan menembak market Kids. Jadi can-cut nya bisa saya kasih design ‘Monday – Sunday’ dng design unyu2 😀
Udah cek supplier, distributor dan market beserta bisnis plan kecil-kecilan *gini-gini gw sekolah ekonomi loh.. Jurusan akuntansi pulak. Hahaha.. Ga pantes ya kalo yang udah kenal cukup deket ama gw pasti tau lah ya.. Kacau pasti kalo gw jadi akunting. Haha.. Tapiii.. Ngomong-ngomong kuliah jurusan akuntansi, dulu mata kuliah yg paling gw suka ya Pengantar Bisnis dan Studi Kelayakan Bisnis. Oia satu lagi, Perpajakan 😀 Nampak ga banget ya sama gw. Tapi di mata kuliah itulah gw ngerasa paling berhasil. Bahkan dari pada mata kuliah Agama ataupun Pancasila. Parah! Gw ngulang bok di dua mata kuliah itu! Hahaha.. Malah jadi cerita kuliah.. Maksud saya bukan itu. Hehe..
Lanjut, tentang brand sendiri.. ‘The House Of Can-Cut’ terhenti akibat saya masih meragu berbisnis sendirian dengan aktivitas pekerjaan yg cukup tinggi load nya waktu itu. Sampai di 2012 saya kembali ingin memproduksi sesuatu yaitu sepatu foldies. Kegemaran saya mengenakan flat shoes dan sudah beberapa kali memiliki foldies shoes, akhirnya saya mulai bertanya tentang produksi sepatu flat yang bias dilipat ini. Kenapa foldies shoes? Karena saya rasa semua wanita bias membutuhkan dan memakai sepatu ini. Dari mulai muda sampai tua. Simpel karena bias dilipat, membuat saya terpikirkan, jika ini sukses merebut hati para wanita, minimal di Jakarta, betapa senangnya saya jika si foldies bisa ada di salah satu jejeran sepatu di kolong meja kerja para perempuan, atau di dalam mobil, bahkan dibawa dalam tas kemana-kemana untuk jaga-jaga atau sebagai pengganti high heels.

Sampai saat ini semua mimpi itu masih menggantung di pikiran. Ketambahan belakangan ingin punya cemilan tradisional yang dipacking dengan menarik dan rasa yang boleh diadu dengan penjualan serta promosi yang dilakukan secara modern. Gak mudah pasti.. semua yang ingin saya produksi menjadi brand sendiri atau independen ini tentu lebih memerlukan ketekunan dalam mendirikan dan mengelolanya. Saat ini saja saya me-running coffee shop sambil kerja kantoran sudah membuat saya kadang agak sulit fokus. Beda loh ya… antara kesibukan atau banyak kerjaan di kantor dengan menjalani pekerjaan dan tanggung jawab di dua perusahaan atau lebih yang berbeda. Jelas segala sesuatunya belum tentu sama atau mirip.

Ini semua masih berkaitan dengan mimpi. Menurut saya inilah salah satu yang masih membuat saya merasakan warna – warni hidup dan merasa terus tertantang dengan adanya mimpi – mimpi. Mimpi yang akan menjadi sementara karena bisa dilihat di kenyataan. Jangan berhenti bermimpi untuk hidup yang terlalu sayang terlewati tanpa adanya angan dan mimpi.

-ndie 🙂

@indietriana

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s