Last day in Pejaten Cribs

1 tahun 4 bulan kami menempati rumah mungil ini. Tak sedikit pula cerita kami di rumah kedua yg kami sewa setelah menikah. Terletak di Pejaten, Jakarta Selatan. Waktu itu kami memutuskan pindah dari Ciganjur, rumah pertama yang kami sewa setelah menikah karena kami butuh tempat tinggal yang lebih dekat dengan tempat usaha kami waktu itu yaitu di Kemang, Jaksel. Tak mudah kami dapati rumah kontrakan di daerah Selatan yang cukup strategis dengan 2 kamar tidur, ruang tamu, ruang tv, dapur, kamar mandi yang luasnya cukup untuk kami berdua dan seekor kucing kami. Hari-hari kami memang lebih banyak terlewati di Kedai Duduk – Duduk yang kami buat sebelum menikah waktu itu. Namun karena satu dan lain hal, dengan berat hati pada Desember 2015 kami menutup kedai tersebut. Sejak saat itu kami banyak menghabiskan waktu di rumah. Saya mulai rutin memasak. Dan akhirnya rumah ini lebih sering kami tempati dari pada sebelumnya. Kami selalu pulang tengah malam. Susah senang kami lalui dan harapan untuk bisa mempunyai keturunan akhirnya terkabul. Juni 2016 saya positif hamil 5 minggu. Alhamdulillah… Yang kami tunggu datang juga. Karena kehamilan ini juga salah satunya, kami memutuskan untuk mencari rumah yang lebih nyaman. Dan karena kedai kamipun sudah tidak beroperasi, kami bebas memilih lokasi tempat tinggal. Suami sayapun pekerja akhir pekan. Jadi tidak bergantung dengan traffic jam setiap harinya. Singkat cerita suami saya menemukan rumah yang lebih besar dan nyaman yang berada di bilangan Depok. Akhirnya kami memutuskan untuk pindah rumah ke Depok karena memang kami butuh lingkungan yang lebih nyaman dan rumah yang lebih besar. Bismillahirrohmanirrohiim.. Semoga di rumah yang baru kami bisa lebih merasakan kenyamanan lagi, sambil menunggu kehadira anggota keluarga kami yang baru yang tentunya akan menambah kehangatan keluarga kami. Semoga kami selalu dilindungi Allah swt dan diberikan kesehatan serta rizki yang halal. Aamiin.

Terima kasih rumah Pejaten. Kami senang pernah tinggal di rumah mungil ini. Terima kasih atas waktu yang telah terlewati disini. Suatu hari mungkin rindu kami akan menghampiri. Selamat bertemu penghuni baru! 🙂

-ndie

Hello Trimester Dua!

image

Tri semester dua. Memasuki masa dimana katanya adalah masa yang paling nyaman untuk ibu hamil. Morning sickness sudah lewat dan tubuh sudah lebih fit dan perut belum terlalu besar, jadi masih enak untuk beraktifitas dan juga saat tidur. Bagi saya, kondisi tubuh memang sangat membaik. Sudah lumayan enak dibawa beraktifitas luar rumah juga. Alhamdulillah sudah tidak hanya tidur terus bawaannya 🙂 Meskipun tenaga tidak sebesar sebelum hamil dan tetap saja mudah merasa lelah dan ngantuk. Hehe..

Kalo ditanya ngidam apa? Untungnya saya tidak rewel minta ini itu ke suami. Cuma sempat kemarin amat sangat kepingin Soto Lombok Malang (soto ini ada di jalan Lombok, Malang). Untungnya ada teman yang lagi mudik dan mau balik kerja ke Jakarta. Alhasil, Tio teman kami membawa bungkusan soto dari Malang dengan penerbangan melalui Surabaya. Sesampainya soto di rumah kami, rasanya bagai surga dunia buat saya ketika itu. Baru kali itu saya makan lahap selama hamil. Nasi satu piring dan soto semangkok habis tak bersisa sedikitpun. Ini ngidam apa doyan ya..? Hehe.. Memang juara banget soto yang sudah legendaris di Malang ini. Ada bubuk koya nya yang khas. Duh, jadi kebayang lagi deh.. ;p
Setelah itu saya tak pernah ngidam apa – apa lagi. Alhamdulillah.. 🙂

Ada beberapa yang berubah dari saya sejak hamil. Saya yang biasanya tidak malas mandi jadi sangat malas mandi. Malas ke dapur, mual jika mencium wangi-wangian dan malas berdandan sedikitpun. Sejak hamil saya tak pernah lagi memasak dan mencuci pakaian. Tiap mencium wewangian seperti deterjen, softener dan juga pengharum ruangan ataupun parfum, kontan saya merasa mual dan ingin muntah. Hormon membuat saya tidak menyentuh parfum saya selama hamil 🙂 Begitupula lipstick, bedak, dll. Saya memang tidak suka berdandan sebelumnya, tapi minimal eyeliner selalu saya pakai jika keluar rumah, tapi sejak hamil ini, apalagi pakai eyeliner, mau mandi saja sudah bagus. Hehe..

Akhir bulan ini kami check up insyaallah 4 bulan usia kandungan saya. Semoga si dedek sudah bisa dilihat jenis kelaminnya. Kalo dari pembawaan hamil saya, banyak orang bilang anak saya kemungkinan besar laki-laki. Saya dan suami berserah diri saja yang penting sehat wal afiat. Aamiin..

-ndie

Kehamilan Pertama

Alhamdulillah yang kami tunggu-tunggu datang! Saya hamil. Kami mengetahuinya di bulan ramadhan lalu. Senang sekaligus degdegan. Semoga saya dan janin sehat terus sampai melahirkan nanti lancar normal. Aamiin..

Seketika kehidupan juga berubah. Saya tidak bisa beraktifitas seperti biasanya. Hormon mempengaruhi hari-hari saya. Mual-mual dan mudah lelah. Itu yg paling dirasakan. Bangun tidur mual rasa ingin muntah dan ketika dimuntahkan tidak keluar makanan, hanya air liur saja. Morning sickness namanya. Di trimester pertama ini memang sangatlah normal jika ibu hamil mengalami hal seperti itu. Saya coba melewatinya dengan semangat menanti kelahiran anak pertama kami. Untungnya suami saya tipe yang rajin dan mandiri. Dia memback up semua pekerjaan rumah harian yang biasa saya kerjakan. Dia merawat saya dengan sabar. Semoga kami diberikan kesehatan selalu. Terima kasih atas anugerah Mu ini Ya Allah. Aamiin.

-ndie

27 Februari 2016

Demi sebuah profesionalisme, demi sebuah kerja tim, demi pekerjaan. Tanggal 27 Februari 2016 ini sama seperti hari-hari biasanya. Hari seperti akhir pekan dimana dia biasa bekerja. Tidak seperti harapan pada umumnya pasangan yang merayakan hari ulang tahun pernikahannya.
Hari ini usia pernikahan kami tepat satu tahun. Bahagia tentunya, tanpa terasa kami telah melewati beragam cerita berumah tangga. Sayangnya hari ini kami tidak bersama. Sejak kemarin dia ada pekerjaan di luar kota. Kemudian lanjut tadi siang setelah mendarat di Jakarta langsung menuju UI Depok. Beginilah cerita istri dari pekerja akhir pekan. Apa kabar kalau saya masih bekerja di dunia akhir pekan juga.. Tuhan memang sudah membuatnya dengan sedemikian hingga.

Kadang ada rasa rindu menghampiri ingin sibuk bekerja lagi, tapi niat untuk menjadi istri yang bisa melengkapi suami lebih dominan dan membuat saya belum mencoba ngantor lagi sampai saat ini.
Semoga di tahun-tahun berikutnya di ulang tahun pernikahan kami akan menjadi hari yang lebih spesial bersama anak dan cucu kami nantinya. Semoga alasan pekerjaan tidak lagi menjadi hambatan untuk kami memperingati hari jadi pernikahan kami. Karena waktu adalah hal termahal yang tidak bisa kami beli dan kembalikan lagi. Karena tidak dipungkiri dari bekerja kami bisa membiayai hidup kami. Tapi semoga kedepannya pekerjaan bisa ikut menyesuaikan waktu-waktu terpenting dalam hidup kami. Aamiin..
Terima kasih atas semua hari yang telah kami lewati Ya Gusti.. Semoga kami bisa menjadi lebih baik lagi.

Selamat hari jadi untuk suami dan calon bapak dari putra putri kita nanti!

@indietriana

Weekend kemana? Hampir setahun belakangan setiap harinya termasuk weekend saya habiskan di kedai yang saya buat bersama suami di daerah Kemang. Kedai Duduk – Duduk yang kami dirikan Januari tahun lalu satu bulan sebelum kami menikah dan kini terpaksa harus ditutup karena issue penggusuran daerah aliran sungai dari pemerintah setempat.

Beralih dari perempuan workaholic yang bekerja di perusahaan ahensi ke entrepreneur tidaklah semudah dan seindah yang teman-teman pikirkan. Saya memang tidak perlu berangkat ke kantor lagi setiap pagi, tidak ada tanggung jawab ke boss lagi, tapi justru tantangan baru ada di depan mata dan beragam setiap harinya. Semua keputusan dan resiko ada ditangan sendiri. Kelebihan yang paling utama adalah bisa mengatur waktu sendiri tanpa tergantung jam kerja dari boss.

Sejak tidak lagi sesibuk ketika bekerja di kantor, saya sangat bersyukur mendapatkan kebebasan mengatur waktu. Hal yang paling berharga dan tidak ada yang bisa membelinya ataupun memutarnya kembali.
Setelah kedai kami ditutup per Desember 2015 kemarin, waktu luang yang saya miliki semakin banyak. Tantangannya adalah justru mengaturnya agar bisa bermanfaat. Tidak hanya untuk istirahat dan leyeh-leyeh sesuka hati, tapi saya terus berpikir agar setiap harinya tetap ada hal positif atau kreatif yang saya lakukan. Meskipun mungkin hanya mempelajari resep masakan atau tentang kopi melalui video youtube.

Melepaskan predikat workaholic dan beralih menjadi entrepreneur dan saat ini harus lebih struggle dengan benar-benar di rumah. Sungguh hal yang tidak mudah. Dimana sebelum-sebelumnya waktu selalu menjadi hal yang sulit saya dapatkan, namun saat ini menjadi sangat leluasa. Semasa menjadi perempuan yang terbilang cukup sibuk dan aktif, saya sudah melalui masa gila bekerja sambil mengikuti beberapa kegiatan seperti olahraga dan juga sesekali melakukan perjalanan baik sendiri ataupun bersama teman. Saat ini.. Apakah saya bisa disebut Ibu Rumah Tangga? Pertanyaan yang tiba-tiba muncul siang ini dipikiran saya dan membuat saya ingin menuliskannya disini. Pikiran ini sedang bergejolak, ide kreatif yang ingin direalisasikan masih tersimpan banyak diotak, menjadi seorang istri dan bekerja di rumah saja selama sebulan ini membuat saya mulai merasakan kekurangan nilai untuk diri sendiri. Saya rindu kesibukan.. Mungkin itu.. Atau lebihnya lagi.. Kehadiran keturunan sudah menjadi jawaban dari kondisi saya yang seperti sekarang ini.

Semoga saya segera diberikan pencerahan untuk hal ini..
Amiin..

@indietriana

Capek Sosial..

Sudah cukup lama tak mengunjungi blog ini. Malem ini saya merasa.. “Capek sosial”. Dulu saya pernah membahas hal ini dng temen di kantor dulu. Kami merasa capek yg bukan hanya fisik, tapi capek bertemu banyak atau bermacam2 orang kemudian berbasa-basi ataupun mengobrol ini-itu. Rawan dirasakan oleh pekerja yang memang scoop kerjanya yaitu berhubungan dan bertemu dengan banyak orang setiap harinya. Seperti saya dulu. Pekerja ahensi yg menjabat sebagai seorang account. Kadang harus memasang wajah palsu dihadapan klien, vendor, dan tak jarang atasan. Ah, untungnya sudah lewat yg itu. Tapi malam ini entah kenapa.. Saya merasakan capek sosial sedang menghampiri. Mungkin saya kurang berdiam, kurang berbicara dng diri sendiri, sehingga saya merasa capek sosial. Dulu setiap pulang kerja saya punya waktu sekitar 15 menit bahkan sampai 1 jam untuk hanya diam. Berdiam untuk menetralkan semua yg ada di diri saya sendiri. Sekaligus mengistirahatkan tubuh. Dan yang sering saya dapat adalah memang ketenangan setelah itu.

Setiap hati, pikiran, dan semua indra yg kita miliki butuh jeda bekerja, butuh istirahat sejenak, dan saya rasa butuh rutin untuk itu agar mereka tidak mengalami kelelahan karena terus dipergunakan tanpa diistirahatkan sejenak. Mari sejenak berdiam untuk mendapatkan energi baru lagi.

-ndie